Kalau ngomongin Perang Banjar, kita lagi bahas salah satu perlawanan paling besar di Kalimantan Selatan abad ke-19. Perang ini bukan cuma soal rebutan tahta, tapi juga perjuangan rakyat Banjar melawan kolonialisme Belanda yang makin serakah.
Kenapa penting? Karena Perang Banjar jadi bukti bahwa perjuangan rakyat daerah nggak kalah heroiknya dibanding perlawanan di Jawa atau Sumatera. Bahkan, perang ini berlangsung lama banget, dari tahun 1859 sampai 1905, alias hampir setengah abad!
Latar Belakang: Konflik Tahta Kesultanan Banjar
Awal mula Perang Banjar erat hubungannya dengan konflik internal Kesultanan Banjar. Tahun 1857, Sultan Adam meninggal dunia. Beliau sebelumnya udah bikin wasiat supaya cucunya, Hidayatullah, jadi penerus tahta.
Tapi Belanda ikut campur. Mereka lebih dukung Tamjidillah, anak hasil perkawinan politik dengan bangsawan Belanda, meskipun rakyat Banjar nggak suka sama dia.
- Hidayatullah punya dukungan rakyat kuat.
- Tamjidillah dianggap boneka Belanda.
- VOC alias Belanda main politik pecah belah.
Situasi makin panas, dan akhirnya meledak jadi perang besar.
Meletusnya Perang Banjar 1859
Titik awal Perang Banjar bisa dibilang meledak di tahun 1859. Rakyat Banjar yang kecewa sama Belanda dan Tamjidillah mulai angkat senjata.
Pimpinan perlawanan:
- Pangeran Antasari, tokoh kharismatik yang jadi simbol perjuangan.
- Didukung Pangeran Hidayatullah.
- Pasukan rakyat, ulama, dan pejuang lokal gabung lawan Belanda.
Pertempuran pecah di Martapura, Hulu Sungai, dan wilayah tambang batu bara Pengaron yang jadi rebutan penting. Dari sini, Perang Banjar jadi perang panjang yang melelahkan.
Pangeran Antasari: Pemimpin Besar Perang Banjar
Kalau bahas Perang Banjar, nama Pangeran Antasari wajib banget disebut. Beliau bukan cuma bangsawan, tapi juga pemimpin spiritual yang dihormati rakyat.
- Lahir sekitar tahun 1797, cucu dari Sultan Banjar.
- Tegas menolak Belanda campur tangan dalam kerajaan.
- Jadi tokoh sentral dalam perlawanan 1859–1862.
Slogan beliau terkenal banget: “Haram manyarah, waja sampai kaputing!” yang artinya “Pantang menyerah, berjuang sampai akhir.” Semangat ini jadi identitas perjuangan rakyat Banjar sampai sekarang.
Strategi Perang Rakyat Banjar
Perjuangan dalam Perang Banjar unik banget karena rakyat pakai taktik gerilya. Mereka manfaatin hutan lebat, sungai, dan pegunungan buat serangan mendadak.
Strategi rakyat Banjar:
- Serangan cepat ke pos-pos Belanda.
- Bakar kapal dan gudang Belanda di sungai.
- Ulama ikut jadi motivator lewat dakwah jihad.
Dengan strategi ini, Belanda sering kerepotan meski punya senjata modern.
Puncak Perlawanan: 1859–1862
Tahun-tahun awal Perang Banjar penuh pertempuran besar. Rakyat berhasil beberapa kali kalahin Belanda, termasuk menghancurkan tambang batu bara di Pengaron.
- Tahun 1859: Serangan besar-besaran di Kalimantan Selatan bikin Belanda panik.
- Tahun 1860: Belanda maksa Hidayatullah menyerah, tapi rakyat tetap lawan.
- Tahun 1862: Pangeran Antasari kena penyakit cacar dan wafat.
Meski kehilangan pemimpin besar, perlawanan rakyat Banjar nggak langsung padam.
Perlawanan Setelah Wafatnya Antasari
Setelah Pangeran Antasari wafat, perjuangan dilanjutkan tokoh lain kayak Pangeran Muhammad Seman, anak Antasari.
- Perlawanan makin menyebar ke pedalaman.
- Banyak ulama kayak Kiai Demang Lehman juga terus lawan Belanda.
- Pertempuran berlangsung sampai awal abad ke-20.
Artinya, Perang Banjar adalah salah satu perang terlama melawan Belanda di Indonesia.
Akhir Perang Banjar
Akhirnya, setelah puluhan tahun perlawanan, Belanda berhasil menguasai wilayah Banjar sepenuhnya pada 1905. Banyak tokoh ditangkap, dieksekusi, atau dibuang ke Jawa dan luar negeri.
Meski kalah secara militer, Perang Banjar nunjukin kalau semangat rakyat nggak bisa dipatahkan begitu aja. Warisannya tetap hidup dalam semboyan perjuangan rakyat Kalimantan Selatan.
Dampak Perang Banjar bagi Rakyat Banjar
Perang panjang ini punya dampak besar:
- Banyak desa hancur dan rakyat kehilangan tanah.
- Belanda makin kuat di Kalimantan, terutama dalam ekonomi tambang.
- Tapi, semangat nasionalisme tumbuh di kalangan rakyat Banjar.
Dampak psikologisnya juga gede banget. Rakyat jadi sadar kalau penjajahan cuma bisa dilawan dengan persatuan.
Fakta Unik tentang Perang Banjar
Biar lebih hidup, nih beberapa fakta menarik:
- Perang Banjar disebut juga “Perang Hulu Sungai” karena banyak pertempuran di daerah itu.
- Pangeran Antasari baru resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia tahun 1968.
- Semboyan “Waja sampai kaputing” sekarang jadi motto resmi Kalimantan Selatan.
FAQ tentang Perang Banjar
1. Apa penyebab utama Perang Banjar?
Campur tangan Belanda dalam suksesi Kesultanan Banjar dan monopoli ekonomi.
2. Siapa pemimpin utama Perang Banjar?
Pangeran Antasari, didukung Pangeran Hidayatullah.
3. Kapan Perang Banjar terjadi?
Dimulai 1859 dan berlangsung hingga 1905.
4. Apa strategi rakyat Banjar?
Gerilya di hutan dan sungai, serangan mendadak, dan jihad rakyat.
5. Bagaimana akhir perlawanan?
Belanda akhirnya kuasai Banjar, tapi semangat rakyat tetap hidup.
6. Apa warisan terbesar Perang Banjar?
Semboyan “Haram manyarah, waja sampai kaputing” yang jadi simbol perjuangan.
Kesimpulan: Perang Banjar Sebagai Warisan Perlawanan
Perang Banjar adalah kisah heroik rakyat Kalimantan Selatan melawan Belanda. Dari konflik tahta, lahir perjuangan panjang yang dipimpin Pangeran Antasari. Meski akhirnya kalah secara militer, warisan semangat perjuangan mereka tetap abadi.
Perang ini ngajarin kita bahwa kolonialisme selalu datang lewat politik licik, tapi rakyat yang bersatu bisa bikin penjajah kewalahan. Sampai hari ini, semangat Perang Banjar masih jadi identitas rakyat Banjar.